AKU

Syndrome:

  1. I thought that he loves me but eventually I love him more.
  2. She’s crying and so annoying.
  3. He leaved me just like that.
  4. She always makes problems grows bigger and bigger.
  5. All I ever do is never worth in his eyes.
  6. She always predicts my gesture.
  7. But I still want to be his friend.
  8. She’s so spoil.
  9. He ignores me.
  10. I’m over her.

Ten syndromes that comes whenever a guy (of course it’s obvious that hate the girl) broke up with his girl.

Aku,  Reno Frances Wijaya.  Kelas 12 International School.  Aku, kebalikan dari semua hal di atas.  Sudah sepuluh kali aku dipecundangi oleh mahluk yang katanya disebut “Perempuan”.  Aku sendiri tidak sampai mengerti mengapa mereka sampai disebut seperti itu? Apanya yang harus di”empu”kan? Nyatanya mereka hanya bisa menyakiti dan mengganggu hidupku saja.  Memang aku tidak begitu tampan, kaya atau pintar.  Diantara semua klasifikasi tersebut aku menduduki posisi dua diantara urutan satu sampai tiga.  Aku berada di tengah-tengah semua klasifikasi itu.

Hari ini pun aku disakiti lagi oleh seorang “perempuan” yang kukira merupakan cinta abadiku.  Namanya Nara.  Huh, kukira aku tidak mau menyebut nama perempuan sialan itu lagi.  Aku begitu membencinya sekarang.  Aku mengenalnya sejak aku selesai dipecundangi oleh perempuanku yang ke sembilan yang bernama Judy.  Judy memang salah satu perempuan yang baik, tapi dia begitu naif dan manja.  Aku tidak tahan terhadapnya sehingga aku putuskan untuk menjauhinya.  Dan bukannya Judy mendekat padaku, malah dia pacaran sama teman baikku sendiri.  Nara lebih dewasa dan perhatian terhadapku.  Dia juga tidak begitu jelek penampilannya, yah setidaknya tidak seperti perempuanku yang ke dua, Danish, yang penampilannya benar-benar seperti preman jalanan.  Entah mengapa aku bisa menyukainya? Aku pun sudah lupa, itu sudah lima tahun yang lalu.

Nara pun tidak terlalu pintar sehingga dia selalu sekelas denganku setiap ada pembagian kelas.  Berbeda dengan Vika, perempuanku yang ke tiga, yang selalu masuk rangking dan masuk kelas unggulan terus dan Nana, perempuanku yang ke empat, yang selalu hampir tidak naik kelas dan selalu masuk kelas buangan.  Aku hampir tak pernah sekelas dengan mereka begitu pembagian kelas menurut prestasi diberlakukan disekolahku. Nara begitu baik padaku, perhatiannya pasti membuat semua pria luluh hatinya.  Walaupun dia tidak secantik Francis, perempuanku yang ke lima, yang selalu dikejar-kejar pria sepertiku.  Dulu aku merasa beruntung sekali karena bisa mendapatkannya. Tapi, ternyata dia hanya ingin membuktikan pada teman-temannya bahwa dia bisa pacaran sama orang yang biasa-biasa saja sepertiku.  Memang, pacar-pacarnya yang terdahulu kalau bukan bintang kelas pastilah orang yang sangat tampan dan kaya.

Nara selalu berada di sisiku setiap kali aku merasa sedih.  Sangat berbeda dengan Aya,perempuanku yang ke enam, yang baru sehari jadian denganku tapi besoknya dia memutuskanku lalu pergi menyusul mamanya ke Jepang.  Keluarga Nara pun sepertinya mendukung bila aku pacaran dengan Nara.  Mereka selalu menyambut baik kedatanganku setiap malam Minggu.  Malah, aku sangat akrab dengan ayahnya yang ternyata punya hobi sama denganku.  Mengutak-atik motor.  Ibunya pun selalu menelponku bila terjadi masalah diantara kami.  Hal ini sangat…sangat berbeda dengan keluarganya Uta, perempuanku yang ke tujuh.  Keluarganya sangat … sangat protektif terhadapnya.  Maklumlah, dia anak salah seorang bos besar di dunia bisnis.  Aku sebenarnya mencurigai bisnis yang dilakukan oleh keluarga Uta, karena setiap kali aku ke rumahnya selalu ada dua orang membawa samurai mengawalnya.  Menurutku, ayahnya mungkin saja bos mafia yang sering menyelundupkan narkotika atau senjata ilegal. Entahlah?

Nara juga berbeda dengan Jean, perempuanku yang ke delapan, yang keturunan ningrat.  Entah kenapa dia bisa nyasar sampai sini?  Nara tidak punya keturunan aneh-aneh.  Dan dia pun tidak pernah mempermasalahkan dengan keturunan apa tau siapa dia bermain.  Memang terkadang ini membuatku resah.  Dia begitu polos sehingga dia menganggap semua orang yang mau berteman dengannya adalah orang baik.  Karena hal ini pula aku hampir saja terbunuh dan bunuh diri.  Dia terkadang begitu tidak mengenalku.  Dan seperti kuceritakan di awal, dia mencundangi aku!  Saat ini aku hampir tidak punya semangat untuk hidup lagi.  Tapi, aku selalu mengingat kata-kata Nara saat aku hendak bunuh diri di hadapannya.  Dia berkata begini

“Ren, kamu tahu gak kalau dandelion ini lebih berharga dari pada kamu di mataku,  dia mau bertahan hidup sampai rela mengikutimu dari tadi pagi sampai sekarang sampai dia menemukan tempat yang lebih baik dari pada bajumu yang lembab karena keringat ini. Sedangkan kamu begitu mudahnya melepas hidup yang sebenarnya bukan milikmu hanya karena masalah sepele seperti ini.”

Memang waktu itu kebetulan ada sebatang dandelion menyangkut di serat bajuku.  Aku tak habis pikir bagaimana jadinya kalau dandelion itu tak ada di bajuku?  Apakah aku masih bisa hidup sampai sekarang?  Tapi dia memang benar.. benar mencundangi aku.  Dari antara sembilan permpuan sebelumnya hanya dia yang paling menyakitiku.  Dia meninggalkanku begitu saja, tanpa pamit, pergi ke suatu negri yang jauh.  Tak sebersit pun keinginanku untuk menyusulnya sekarang.  Jadi kuputuskan untuk tetap hidup dan mengikuti kata-katanya.

Sebenarnya aku sangat tidak rela melepaskannya tapi akhirnya aku menuangkan semua gundahku dalam puisi ini

Malam temani wajahnya

Basuh lembut bermakna

Perlahan sebuah harapan muncul

Terlukis di langit membalas sendu bayangan

Ragu kau mengepakkan sayap kecilmu ke surga

Banyak kenangan lambai padaku

Begitu ajaibnya dirimu

Sanjung alamiah hidupku

Rayu terasa percuma sekarang

Makanya aku mulai bertanya………….

Kapan kau akan kembali?

Tak akankah?

Temaram di tengah gelapnya lampu

Di setiap hari, terdampar

Kau terbang tenang menunggu dan…….

Kau pun tersenyum untuk terakhir kalinya padaku

Melemparkan sauhmu

Harap tertambat entah di mana?

Senyummu,…….. oh

Luluh, menggetarkan jiwaku

Samarkan getir hidup di matamu

Menerawang jauh

Gurat pelangi itu di matamu dan mimpimu

Bertukar kata tutur ceritamu

Hanya sisakan angin perih berbisik dan berlalu

Kini kau coba putar haluanmu

Kau sudah berhasil melewati kabut yang selama ini menghalangimu.

Kini kuambil gitar dan mulai memainkan lagu lama yang biasa kita nyanyikan

Tapi tak sepatah kata yang bisa terucap

Hanya ingatan yang ada di kepala

Hari berganti

Angin tetap berhembus

Cuaca berubah

Daun-daun tetap tumbuh

Kata hatikupun tak pernah berubah

Berjalan dengan apa adanya

Di malam yang dingin dan gelap sepi ini

Benakku melayang pada kisah kita…….

Terlalu manis dan pahit untuk dilupakan

Kenangan yang indah……..

Tak terasa air mataku mengalir begitu saja dan jatuh di atas kertas puisi tersebut.  Jadi kuputuskan untuk membuangnya saja. Tapi tiba-tiba, sebelum aku membuang kertas itu terdengar suara dari luar……..

“Tuan.. tuan Reno?!”

Pembantuku memanggilku.  Aku memang sudah terbiasa dengan sebutan tuan.  Bukan berarti aku anak orang kaya atau apa.  Tapi, memang diantara skala satu sampai tiga tadi, aku mungkin dapat dibilang dalam angka dua koma sembilan sekarang.  Aku segera membereskan mataku yang tadi berlinangan air mata dan membuka pintu.

“Ya ada apa?” tanyaku pada pembantuku yang tampaknya bingung dan tergesa-gesa menemuiku.

“E.. Anu…Itu tuan…”  entah kenapa pembantuku begitu gagap menyampaikannya kepadaku.  Hal ini membuatku semakin penasaran akan apa yang sudah terjadi.

“Ada apa sih?  Kenapa kamu begitu gagap?”

“Itu tuan.. Non Rara sudah datang…!”  begitu mendengar hal ini, aku langsung menutup pintu dan mulai membereskan kamar tidurku.  Entah kenapa tapi rasanya hal itu benar-benar harus kulakukan bila Rara datang.  Lalu, aku menyuruh pembantuku membereskan pakaian-pakaian kotor serta hal-hal lain yang menurutku sangat berantakan di kamarku ini.  Rara adalah anak sahabat mama.  Kami sudah bertemu dan mungkin dapat dianggap berteman sejak kecil.  Tapi sejak aku berumur sepuluh tahun dia pindah ke Amerika dan menetap di sana bersama orang tuanya aku dan dia kehilangan komunikasi.  Sangat beruntung bagiku dia bisa kembali tahun ini.  Entah juga kenapa aku begitu merindukan dia.  Dan rencananya dia akan menetap di sini, ya, di rumahku selama tiga tahun sampai dia lulus highschool di sini.

Sebenarnya mama sudah memberi tahuku jauh-jauh hari sebelum kedatangannya.  Tapi, waktu itu aku masih terlalu sibuk dengan urusan Nara.  Aku baru ingat dia akan datang hari ini.  Mungkin karena kemarin aku benar-benar merasa kacau dengan segala masalahnya Nara.  Dan akupun segera bergegas menemuinya di ruang depan.  Dalam hati aku benar-benar penasaran bagaimana wajahnya yang imut karena dulu dia sangat gendut sehingga aku selalu memanggilnya Si Gendut Rara.  Apakah dia makin gemuk atau malah tambah tambah gemuk?  Wah aku saja sudah tertawa-tawa membayangkannya….

Begitu aku masuk ke ruang depan, aku lihat mama sedang bercakap-cakap dengan dua orang perempuan.  Yang satu sangat cantik, badannya langsing dan mukanya juga lucu.. memang itu juga kebiasaan ku memanggil perempuan lucu karena aku tak pernah tega mengatai mereka aneh.  Yang satu lagi anaknya manis dan badannya gendut.  Karena firasatku mengatakan bahwa Rara adalah yang satu ini, tanpa pikir panjang lagi aku menyalaminya.  Tapi, mama menegurku dan bertanya padaku…

“loh Ren,  kamu kenal Ritra di mana?”  aku kebingungan dan melepaskan tanganku.  Aku tak merasa kenal dengan orang yang namanya Ritra.  Lalu aku perhatikan dengan seksama muka gadis itu, yang sekarang memerah karena malu dan kaget karena aku menggenggam tangannya tiba-tiba.

“Ritra?! Ritra yang mana?! Ini kan Rara?” jawabku.  Tiba-tiba semua orang di situ tertawa terbahak-bahak.  Aku makin tidak mengerti sampai akhirnya mamaku menjelaskan masalah yang sebenarnya.

“Reno…reno… yang tadi kamu peluk itu Ritra adiknya Veno -Veno adalah saudaraku juga, tapi dia lima tahun lebih tua dariku, dia baik padaku, dia juga mirip denganku,entah darimana teman-temanku yang pernah bertemu dengannya selalu bilang bahwa dia itu sangat keren, dia juga suka mempermainkan perempuan alias playboy, dia juga sekolah di Amerika sekarang, entah bagaimana kabarnya sekarang, aku sudah hampir sepuluh tahun tak bertemu dengannya- Ritra menemani Rara selama di Amerika dan dia juga akan menemaninya selama tinggal di sini, kamu tidak keberatan kan?” tanya mamaku sambil masih cengar-cengir.

“Ehmm… tidak sih?! Tapi, kok Rara belum datang?  Aku kan kangen banget sama dia, ma!  Terus siapa nih cewek yang di sebelah Ritra, temannya Ritra ya?  Cantik juga.  Kenalan dong!”  tanyaku tanpa malu-malu sambil mengulurkan tanganku manja padanya.  Dan dia pun menyambut uluran tanganku dan mamperkenalkan dirinya….

“Francessca Trania Shanditya”  katanya sambil tersenyum.  Aku kaget setengah mati mendengarnya…. ternyata dia itu Rara –itu nama panjangnya,  karena susah memanggil Trania aku panggil dia Rara-

“Ra…ra…?! kamu Rara?!” Akuu benar-benar tak percaya pada pendengaranku.

“Yes! I’m Rara!” katanya dalam bahasa Inggris yang sangat fasih sambil masih tersenyum kecil.

“Bohong! Rara kan gendut! Walau aku sudah tidak bertemunya hampir enam tahun, aku masih yakin Rara tak mungkin diet menjadi sekurus ini!” Aku blak-blakan mengungkapkan isi hatiku di situ.

“Reno! Bicaramu keterlauan! Dia ini Rara!” Mama sampai marah padaku setelah mendengar semua ceplosanku tadi.

“No…no! it’s OK tante! Rara understand kok if Reno still think Rara itu gendut, because last time Rara met Reno, Rara still looked very gendut!” jawab Rara dengan bahasa yang campur aduk.

“Ya sudah! Apa kamu tidak capek?  Perjalanan tadi lama kan?  Kamu mau istirahat kan Ra? Tra?  Biar tante suruh pembantu menyiapkan kamar kalian berdua dan menyiapkan air mandi untuk kalian berdua”  tanya mamaku baik-baik pada mereka sambil masih memasang wajah cemberut padaku.

“Yes, thank you!” jawab Rara dan Ritra hampir bersamaan.  Dan mereka pun pergi ke kamar mereka.  Aku tak tahu mereka memakai kamar yang mana, karena di rumahku ini ada hampir sekitar 25 kamar kosong.  Sekali lagi, bukannya aku kaya, tapi orang tuaku membeli sebuah penginapan untuk disewakan karena saat itu ayahku sedang diambang kehancuran dari perusahaannya, jadi menyiapkan penginapan ini untuk segera disewakan sebagai usaha baru jika ayahku benar-benar bangkrut, tapi tiba-tiba keadaan perekonomian mulai baik lagi.  Dan karena sudah terlanjur tinggal dan mengasetkan uang banyak pada penginapan ini, kami memutuskan untuk tinggal di penginapan ini dan menjadikannya rumah kami.  Ini juga salah satu alasan mengapa aku mempunyai banyak pembantu.

Setelah itu aku pergi ke ruang makan yang cukup besar juga dan letaknya dekat dengan ruang depan tadi, aku pun menyuruh pembantuku membuatkanku pop-corn, karena aku ingin menonton film yang baru kubeli dan merasa seperti benar-benar di bioskop.  Sambil menunggu pop-cornnya matang, aku menyiapkan film yang akan ku tonton itu di ruang entertainment.  Ya, ini juga salah satu ruang bekas bioskop kecil yang tadinnya disediakan untuk penginapan, tapi karena tak terpakai lagi, aku saja yang selalu menggunakannya.  Biasanya aku selalu mengundang teman-temanku atau pacarku untuk menonton bersama.  Tapi, karena semua teman-temanku sedang berlibur entah kemana dan aku sedang tidak punya pacar, aku menontonnya sendirian saja.  Menyedihkan memang, tapi harus bagaimana lagi?

Sebenarnya terpikir juga olehku untuk mengajak Rara dan Ritra menonton bersama, tapi aku berpikir lagi, mungkin mereka benar-benar butuh istirahat saat ini, dan aku pun tidak mau mengganggu mereka.  Dan setelah kupasang DVD playerku,  pembantuku masuk dan mengantarkan pop-corn untukku.

“Ren!!! Reno!!! Tolong!! Tolong Nara, Ren!!! Renoooooo!!”  seorang gadis berteriak-teriak dalam kehitaman malam.  Matanya sembab oleh air mata yang tak kunjung henti.  Pakaiannya kotor terkena oli dan minyak yang tertumpah di jalanan.  Rambutnya kusut bagai seekor anjing kampung yang tak mengenal air. Darah yang mengucur di kepalanya membuatnya terlihat semakin menjijikan.  Reno, orang yang disahut-sahutnya terbaring lemah disampingnya.  Tak menyahut, tak berdaya.  Nara, nama gadis itu, mengguncang-guncangkan tubuh Reno sekuat tenaganya.  Berteriak agar lelakinya bangun dan menolong dirinya dan dirinya sendiri.

Dalam kehitaman malam itu, sendirian, di negri antah berantah, bersama seorang yang amat sangat ia cintai dan sangat mencintainya.  Semuanya tiba-tiba menjadi begitu kabur baginya.  Telintas semua kenangan dirinya akan lelaki yang terbaring di pangkuannya itu.  Dan menyadari bahwa semua tak akan sama lagi.

Nara teringat akan hari itu…

Siang hari itu, Reno kembali mengantarnya ke rumah.  Hal yang cukup aneh untuk mereka yang tak punya status pacaran.  Nara sudah lama mengetahui bahwa Reno menyukainya.  Tapi Reno tak pernah sekalipun menyatakannya secara langsung.

Reno berbeda sekali hari itu, dia lebih misterius dari biasanya.  Sesampai di rumah Nara, Nara langsung masuk ke dalam rumahnya.  Sambil mengintip dari jendela ruang tamunya, Nara, yang saat itu juga jatuh cinta pada Reno, memandang Reno yang sedang berdiri di samping motornya memandang ke dalam rumah Nara dengan tatapan kosong, seperti sedang menunggu sesuatu tejadi di dalam. Nara yang kebingungan melihat sikap Reno yang seperti itu memutuskan untuk keluar dari rumah lagi dan menemui Reno.

Nara mendekati Reno yang sepertinya terkejut melihat Nara keluar dari rumahnya lagi.  Nara akhirnya berada di samping Reno.  Reno yang semakin gugup mengeluarkan handphonenya dan menekan-nekan beberapa tombol.  Seperti orang bingung.  Nara terkikih melihat Reno yang seperti itu.  Ia mendekatkan dirinya dengan Reno supaya ia bisa melihat apa yang sedang dilakukan Reno dengan handphonenya.

Tetapi, Reno menutup-nutupi handphonennya dan menjauhkannya dari jangkauan penglihatan Nara.  Setelah beberapa kali Reno bersikap begitu, Nara mulai kesal, ia masuk lagi ke dalam rumahnya sembari mempersilahkan Reno untuk masuk.  Ia berpikir daripada Reno seperti orang gila yang termenung sendiri di depan rumahnya lebih baik Reno di dalam rumahnya saja melakukannya.  Nara meninggalkan Reno di ruang tamu dan masuk ke kamarnya untuk ganti baju.

Reno termenung sendiri di ruang tamu sambil masih mengutak atik handphonenya.  Nara akhirnya keluar kamar dan duduk di seberang Reno.  Mereka berdua sama-sama diam, hening, tak tahu harus melakukan apa. Nara akhirnya membuka pembicaraan.

“Kok tumben gak langsung pergi Ren?”

Reno masih diam.

“Emm, katanya ditunggu sama temen-temen?”

Reno menggeleng.

Nara benar-benar kehilangan kesabaran.  Ia meninggalkan Reno dan menonton TV di ruang tengah.  Akhirnya setelah hampit 15 menit, Reno mendekati kursi yang diduduki Nara sambil memakai helmnya dan menaruh handphonennya disamping Nara, lalu pergi ke luar rumah Nara.  Nara benar-benar bingung dengan sikap Reno yang seperti ini.  Ia tahu, semenjak ia mengenal Reno, Reno memang sangat pemalu dan sedikit rendah diri terhadap perempuan, karena ia sudah beberapa kali dipermainkan oleh perempuan.  Ia sudah mendengar semua itu dari teman-teman Reno.  Tapi ia tidak pernah membayangkan Reno yang seperti ini.

Nara mengambil handphone yang Reno tinggalkan disebelahnya dan membaca sebuah text messages yang belum sempat terkirim.

“Lu mau gak jadi pacar gw? Jangan ketawa ya? Hehehehe”

Nara benar-benar ingin meledak saat itu.  Bibirnya tak bisa menahan diri untuk berhenti tersenyum.  Tawanya tersembunyi di hati.  Ia mengejar Reno keluar.  Ternyata Reno masih ada diluar.  Memakai helmnya.

“Ren, ini harus dijawab sekarang?” tanya Nara sambil mengulurkan handphone Reno.

“Ah.. Eh… Gak.. Gak usah sekarang juga gak apa-apa.  Nanti sms aja ya?” dengan tidak menaikkan penutup helmnya Reno berbicara lalu pergi dengan cepat dari rumah Nara.

Sekitar jam 3, Nara akhirnya memutuskan untuk memberi tahu Reno semua perasaannya untuk reno selama ini dan mngirimi Reno sms.

“Ya, gw mau”

***

“Sembilan… Aku suka angka itu.. Itu pantes buat kamu Nara!” senyum Reno mengembang setelah mengatakan hal itu.  Seperti tersimpan kepuasan tersembunyi dibalik kata-katanya.

“Bukannya sudah biasa Ren, nilai-nilai aku memang selalu sembilan kok?  Tapi sembilan terbalik. Hehehe.” Tidak mengerti arti sembilan di mata Reno, Nara hanya tertawa , tersenyum dengan manisnya. Reno merangkulkan tangannya di pinggang Nara.  Nara tersentak, kaget, tak terbiasa, akan sentuhan lembut yang sekarang dinikmatinya itu.

“Nara itu Sembilan! Hampir sempurna, tapi tidak terlampau sempurna.  Pas.  Cukup membanggakan.  Tapi tidak untuk disombongkan”  Reno tersenyum kembali dan berbalik menatap Nara.  Nara yang masih linglung dengan suasana yang begitu tidak biasa hanya bisa ikut tersenyum simpul dan memandang Reno.

Reno merebahkan dirinya ke sofa sambil tetap merangkul pinggang Nara.  Nara menjadi semakin kikuk.  Benar-benar tidak tahu harus berbuat apa. Reno menariknya, merebahkan kepala Nara di dadanya. Sambil menatap Reno, Nara mendengar derapan jantung Reno yang tegar.  Derapan jantung yang semakin lama, semakin cepat.  Lalu menjadi tidak terkendali.  Dan terasa ada sentuhan di bibirnya yang mungil di saat ia memejamkan matanya.

“Ciuman pertama!” Suara hati Nara berteriak kencang.  Benar-benar tidak tahu harus apa, Nara berpura-pura tidur dalam dekapan lelakinya.  Dengan hati yang berbunga-bunga dan bibir yan terus tersenyum karena hal yang paling penting dari dirinya,  yang selama ini telah disimpannya dengan sangat hati-hati telah diambil oleh orang yang benar-benar ia akan sukai, ia sayangi, ia cintai seumur hidupnya.

“Renooo….” suaranya yang serak membuat seakan-akan keadaan akan menjadi semakin berantakan apabila ia berbicara dengan cara lain.

“Renooo.. Banguun…” setetes air matanya jatuh kembali.  Ke tanah, bercampur dengan minyak, oli dan darah, menjadikannya genangan tersendiri diantara pekatnya cairan lain.

Nara semakin mendekatkan dirinya ke lelaki itu, menyentuhkan bibirnya dengan pipi lelaki itu.  Sambil tetap tersedu-sedu berbisik di telinga lelaki yang mungkin hanya akan mendegarnya lewat mimpi.

“Reno, Nara sembilan, tapi Reno satu.  Dan satu tetap satu.  Satu gak boleh jadi dua atau tiga.  Reno adalah satu. Satu untuk sekarang dan satu untuk lima milyar tahun lagi.  Reno adalah pangkat nol untuk Nara.  Untuk setiap hati Nara, untuk setiap pikiran Nara, untuk setiap air mata Nara… Reno akan selalu jadi sat…..”

Seorang ibu berjalan kaki di tengah gelap dan dinginnya malam itu,  demi anak dan suami, dalam hatinya ia berkata.  Demi kelangsungan masa depan bangsa.  Semua yang ia lakukan sekarang pasti akan selalu berarti bagi negara ini suatu hari nanti. Berbekal semua pikiran itu, ia nekat menembus dinginnya malam.  Berjalan di batu-batu yang licin karena hujan.  Sembari tetap memegang tasnya yang kecil dan kumal tapi tetap terlihat bersih.  Tas yang bisa dibilang sudah menjadi teman dan sumber hidupnya selama ini.  Tas kecil yang berisi handuk bersih, stetoskop, tensimeter, dan sarung tangan.  Sambil meniti batu-batu licin didepannya, pandangannya mulai meluas,  seberkas cahaya menyilaukan matanya.

Seperti lampu senter yang sudah rusak,  cahaya itu semakin lama semakin redup.  Berbekal pengalamannya selama ini, ia berusaha mendekat.  Semakin dekat semakin terlihat jelas bayangan seseorang yang tergeletak di tengah jalan.  Mengikuti nalurinya, ia berlari, jalan yang berbatu kini tak ditapakinya lagi,  seperti melayang, meloncat dari satu batu ke batu lainnya.  Sampai akhirnya ia berhenti.  Mendapati bahwa satu tidak lagi satu, tetapi dua.

Seorang lelaki tergeletak tak berdaya dan seorang gadis memeluknya sama tak berdayanya.

“Tuan…. Tuan Reno….”  terdengar suara dari jauh,  suara yang seakan sama-sama berasal dari mimpiku.  Tubuhku diguncang-guncangkan oleh salah seorang pembantuku.  Saat pandangan dan pikiranku mulai jelas, aku melihat ada dua orang lagi dibelakang pembantuku itu.  Rara dan Ritra, pikirku.

“Hemm?” dengan sangat malas aku menggeliatkan tubuhku di kursiku.

“Kita mau minta tolong kamu…”rara menyembulkan kepalanya dibalik bahu pembantuku yang daritadi membelakanginya.

“Hemm? Apa??” –aku paling benci bila seseorang membangunkanku dari tidurku, mereka pikir siapa mereka, lebih penting dari tidurku?!-

“Bisa anterin kita belanja ga?” lanjut Rara.

“Hah! Apa sih kalian ini?! Minta tolong sama supir gak bisa apa?!” aku bangkit dari tempat dudukku lalu berlalu dan meninggalkan mereka yang sekarang saling bergumam, membicarakan aku tampaknya.  Apa peduliku?

Aku berjalan menuju ke kamarku, ingin melanjutkan tidurku.  Tapi, aku teringat akan mimpiku tadi.  Mimpi yang sama, sejak Nara meninggalkanku.  Mimpi yang selalu datang disaat aku mengigat dirinya. Mimpi yang seakan kenyataan.  Mimpi yang mungkin saja kenyataan.

“Reno! Kamu ini apa-apaan sih?” sekali lagi… omelan mama

“Kamu kenapa marah-marah sendiri sih? Rara sama Ritra salah apa sama kamu coba?”

“Tidak dewasa.  Umurmu itu sudah 17 tahun.  Tapi masih saja seperti anak kecil yang tidak tahu sopan santun.”

Tidak dengar. Tidak tahu.  Tidak mau tahu.  Sikap yang katanya sedang populer di kalangan anak muda ini aku praktekkan.  Lebih baik diam dan tenang.  Biar orang lain yang merasakan kesalahan mereka.  Biarkan mereka yang meminta maaf padamu.  Kamu tidak salah apa-apa kok.

Aku berlalu dan masuk ke kamar mandi.  Menyalakan shower lalu duduk di atas toilet tanpa melepas celanaku.  Semua omelan mama dari luar hanya terdengar seperti siaran radio rusak.  Bukan peribahasa yang sering dipakai guru-guru untuk menenangkan muridnya, tetapi pada kenyataannya memang benar-benar terdengar seperti itu. Aku hanya menundukkan kepalaku saja lalu menyalakan TV yang ada di atas bath tub,  gak ada yang bagus, pikirku.  Aku terus saja mengganti-ganti saluran TV sampai akhirnya air dalam bath tub penuh juga dan mulai timbul hasrat dalam diriku untuk membersihkan diriku.  Mandi.

Dengan hanya handuk yang menempel di pinggangku, aku keluar dari kamar mandiku.  Kebiasaan buruk, kata mama.  Tapi toh dia juga yang dulu membiasakan hal ini padaku.  Telepon di samping tempat tidurku bergetar.  Ya, bergetar.  Semua orang di rumah ini sudah tahu.  Aku paling tidak suka dibangunkan.  Aku tahu kewajibanku, aku akan menjalankan segalanya sesuai jadwal dan semuanya telah terbukti sampai sekarang.  Jadi, papa membelikanku telepon yang bisa bergetar seperti handphone.

“Halo…?”

“Oi Ren, jalan yuk? Kita mau pada nonton nih!” -siapa dia?-

“Siapa ini?”

“Yah elah.  Ni Ui!”

Ui?  Ui siapa?  Database dalam otakku mulai bekerja.  Mencari daftar nama teman atau mantan teman sejak lahir hingga hari ini yang bernama Ui.  Hemm…

Setelah lima menit…

“Ui siapa ya?

“Ya Tuhanku!  Ludwig! Ini Ludwig.  Berkaca mata?  Nissan?”   pendeskripsian diri yang aneh, menurutku.  Tapi berhasil.  Akhirnya aku mengitngatnya.  Ludwig,  diberi nama seperti itu oleh orang tuanya agar menjadi komponis handal seperti Ludwig van Bethovent.  Semenjak play group oleh orang tuanya dileskan berbagai keterampilan bermusik, piano, biola, gitar, saxophone dan yang terakhir drum.  Tetapi,  seperti diberi beban yang terlalu berat oleh namanya itu.  Ia malah mengambil jurusan perbengkelan di sekolahku untuk menjadi montir.

“Nissan! Ya ya! Lupa aku.  Maaf, maaf.  Hahahaha. Nonton ya? Jam berapa?”  kebodohan dan ingatanku yang sempit  sangat tergambar dari kejadian tadi.

“setegah empat, di mall biasa”  sekali lagi, suatu ke-lucu-an terjadi dalam kehidupanku sehari-hari. “Mall biasa”.  Aku sampai-sampai mempunyai nama yang kubuat sendiri untuk beberapa mall yang ada di kotaku.  Ada mall yang bernama Abe karena di mall tersebut anak-anak otomotif seperti Ui, temanku yang bernama Abe-yang mengenalkanku pada Ui sebelumnya- dan kawan-kawannya sering berkumpul.  Ada pula mall yang bernama Vino, karena Vino dan kawan-kawan selalu saja menonngkrong di sana setiap pulang sekolah.  Memang mall yang satu ini jaraknya cukup dekat dari sekolahku.  Tapi kan bukan berarti harus nongkrong di sana sepanjang hari?

Dan yang terakhir ada mall Nara.  Nara memang bukan “anak mall”, tetapi ia selalu saja mengajakku ke mall ini setiap kali ia bosan.  Mall yang satu ini tidak terlalu besar dan mewah.  Tapi berkonsep outdoor sehingga bila malam tidak mendung, akan banyak bintang bertaburan di atasnya.  Dan anehnya nara selalu saja menolak untuk ku ajak ke Mall yang lain.  Nara.  Tiap kali teringat, roh dalam diriku terasa terangkat, bulu kudukku berdiri,  dan hatiku tertikam.

Aku melirik jam diatas telepon.  Jam tiga kurang.  Sempat.

“Ya.  Aku ke sana deh sekarang.  Tunggu di depan bioskopnya ya?  Beliin tiketnya dulu juga.”

Segeraku memakai baju yang sudah disiapkan pembantuku.  Ternyata mama langsung menyuruh pembantuku menyiapkannya sewaktu aku mandi.  Mama memang pengertian tetapi cerewetnya melebihi filsuf.  Mengambil kunci Lancerku lalu pergi ke lantai dasar yang dahulu seharusnya jadi lobby.  Sesampainya di tempat aku biasa memarkir Lancer kebanggaanku, mataku terbelalak.  Lancerku tak disana.  Hilang begitu saja. Padahal aku ingat sekali, semalam aku memarkirkannya disana. Aku kembali ke dalam rumah, memanggil supir pribadi mama.

“pak Isan! Pak Isan!”  teriakku ditengah lobby.  Para pembantu mempunyai ruangan khusus di dekat lobby ini.  Jadi bila kita berteriak sedikit pasti akan terdengar oleh mereka.

Seorang pembantuku keluar dari ruangan itu dan memberi tahuku bahwa Pak Isan sedang mengantarkan Rara dan Ritra belanja.  Sial!  Tak penting dimana Pak Isan tetapi Lancer kesayangnku lah yang paling penting.  Mamaku keluar dari kamarnya sambil memegang buku di tangannya.

“Ren mobil kamu dipakai Pak Isan mengantar Rara dan Ritra ya?  Dari tadi mama mau kasih tahu kamu.  Tapi kamu gak dengerin mama sih.  Tadinya mama mau kasih pinjam mobil mama, tapi STNKnya tidak ada.  Kalu kamu mau pergi sekarng, bawa mobil mama saja.  STNKnya sudah ketemu kok ni.”

Kekesalanku benar-benar memuncak.  Bukan apa-apa.  Mobil mamaku adalah Toyota Crown tahun lama.  Dan yang lebih parahnya berwarna pink.  Benar-benar memalukan.

So, here I am.  Unembarrace but bored.  Ya.. aku tetap di rumah.  Membatalkan janjiku dengan Ui.  Berbaring di ranjang menatapi poster Britney di langit-langit kamarku.

Wait!

Britney?!

…….yg ini keknya mau dilanjutin… tapi dari dulu ga maju2…. hahaha… yah diliat dulu aja sapa tau ada yang minat….

1 Comment (+add yours?)

  1. mbanxlambang
    Dec 20, 2009 @ 11:50:38

    Wah luar biasa..
    ikut comment..
    KK irene… tukaran link donk..
    http://mbanxlambang.wordpress.com

    Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: